Senin, 31 Agustus 2009

Hafalan surat Delisa (tragedy tsunami)

Ada sebuah keluarga di Lhok Nga - Aceh, yang selalu menanamkan ajaranIslam dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan AbiUsman. Mereka memiliki 4 bidadari yang solehah: Alisa Fatimah, (sikembar) Alisa Zahra & Alisa Aisyah, dan si bungsu Alisa Delisa.

Setiap subuh, Umi Salamah selalu mengajak bidadari-bidadariny a sholatjama'ah. Karena Abi Usman bekerja sebagai pelaut di salah satu kapaltanker perusahaan minyak asing - Arun yang pulangnya 3 bulan sekali.Awalnya Delisa susah sekali dibangunkan untuksholat subuh. Tapi lama-lama ia bisa bangun lebih dulu ketimbang Aisyah.Setiap sholat jama'ah, Aisyah mendapat tugas membaca bacaan sholatkeras-keras agar Delisa yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaansholat itu.

Umi Salamah mempunyai kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emaskepada anak-anaknya yang bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna.Begitu juga dengan Delisa yang sedang berusaha untuk menghafal bacaansholat agar sempurna. Agar bisa sholat dengan khusyuk. Delisa berusahakeras agar bisa menghafalnya dengan baik. Selain itu Abi Usman pun
berjanji akan membelikan Delisa sepeda jika ia bisa menghafal bacaansholat dengan sempurna.

Sebelum Delisa hafal bacaan sholat itu, Umi Salamah sudahmembelikan seuntai kalung emas dengan gantungan huruf D untuk Delisa. Delisa senang sekali dengan kalung itu. Semangatnya semakin menggebu-gebu. Tapi entah mengapa, Delisa tak pernah bisa menghafalbacaan sholat dengan sempurna.

26 Desember 2004

Delisa bangun dengan semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannyanyaris sempurna, kecuali sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba Delisalupa bacaan sujudnya. Empat kali sujud, empat kali Delisa lupa. Delisamengabaikan fakta itu. Toh nanti pas di sekolah ia punya waktu banyakuntuk mengingatnya. Umi ikut mengantar Delisa. Hari itu sekolah ramaioleh ibu-ibu. Satu persatu anak maju dan tiba giliran Alisa Delisa.

Delisa maju, Delisa akan khusuk. Ia ingat dengan cerita Ustad Rahmantentangbagaimana khusuknya sholat Rasul dan sahabat-sahabatnya."Kalo orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannyasatu." Nah jadi kalian sholat harus khusuk. Andaikata ada suara ribut di
sekitar, tetap khusuk.

Delisa pelan menyebut "ta'awudz". Sedikit gemetar membaca"bismillah". Mengangkat tangannya yang sedikit bergetar meski suaradan hatinya pelan-pelan mulai mantap. "Allahu Akbar".

Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usaibertakbiratul ihram, persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA.Dasar bumi terban seketika! Merekah panjang ratusan kilometer.
Menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian mencuat.Mengirimkan pertanda kelam menakutkan.

Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Niaslebur seketika. Lhok Nga menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat Delisa,tepat ketika Delisa mengucapkan kata "wa-ma-ma-ti" , lantai sekolah bergetar hebat. Genteng sekolah berjatuhan. Papan tulis lepas, berdebam menghajar lantai. Tepat ketika Delisa bisa melewati ujian pertama kebolak-baliknya, Lhok Nga bergetar terbolak-balik.

Gelas tempat meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh.Pecah berserakan di lantai, satu beling menggores lengan Delisa.Menembus bajunya. Delisa mengaduh. Umi dan ibu-ibu berteriak di luar.Anak-anak berhamburan berlarian. Berebutan keluar dari daun pintu.
Situasi menjadi panik. Kacau balau. "GEMPAR"!

"Innashalati, wanusuki, wa-ma... wa-ma... wa-ma-yah-ya,wa-ma-ma-ti. .."

Delisa gemetar mengulang bacaannya yang tergantung tadi. YaAllah, Delisa takut... Delisa gentar sekali. Apalagi lengannya berdarahmembasahi baju putihnya. Menyemburat merah. Tapi bukankah kata UstadzRahman, sahabat Rasul bahkan tetap tak bergerak saat sholat ketika punggungnya digigit kalajengking?

Delisa ingin untuk pertama kalinya ia sholat, untuk pertamakalinya ia bisa membaca bacaan sholat dengan sempurna, Delisa inginseperti sahabat Rasul. Delisa ingin khusuk, ya Allah...

Gelombang itu menyentuh tembok sekolah. Ujung air menghantam temboksekolah. Tembok itu rekah seketika. Ibu Guru Nur berteriak panik. Umiyang berdiri di depan pintu kelas menunggui Delisa, berteriak keras ...SUBHANALLAH! Delisa sama sekali tidak mempedulikan apa yang terjadi.Delisa ingin khusuk.. Tubuh Delisa terpelanting. Gelombang tsunamisempurna sudah membungkusnya. . Delisa megap-megap. Gelombang tsunamitanpa mengerti apa yang diinginkan Delisa, membanting tubuhnyakeras-keras. Kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang masih bersisa.Delisa terus memaksakan diri, membaca takbir setelah "i'tidal..."
"Al-la-hu-ak- bar..." Delisa harus terus membacanya! Delisa tidakpedulitembok yang siap menghancurkan kepalanya.

Tepat Delisa mengatakan takbir sebelum sujud itu, tepat sebelumkepalanya menghantam tembok itu, selaksa cahaya melesat dari "ArasyAllah." Tembok itu berguguran sebelum sedikit pun menyentuh kepalamungil Delisa yang terbungkus kerudung biru. Air keruh mulai masuk,
menyergap Kerongkongannya. Delisa terbatuk. Badannya terus terseret.Tubuh Delisa terlempar kesana kemari. Kaki kanannya menghantam pagarbesi sekolah. Meremukkan tulang belulang betis kanannya. Delisa sudahtak bisa menjerit lagi. Iasudah sempurna pingsan. Mulutnya minum berliter air keruh.Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya. Sikunyapatah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya patah. Darahmenyembur dari mulutnya..

Saat tubuh mereka berdua mulai perlahan tenggelam, Ibu Guru Nur melepaskerudung robeknya. Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas papansekencang yang ia bisa dengan kerudung itu. Lantas sambilmenghela nafas penuh arti, melepaskan papan itu daritangannya pelan-pelan, sebilah papan dengan Delisa yang terikat kencangdiatasnya.

"Kau harus menyelesaikan hafalan itu, sayang...!" Ibu Guru Nurberbisiksendu. Menatap sejuta makna. Matanya meredup. Tenaganya sudah habis. IbuGuru Nur bersiap menjemput syahid.

Minggu, 2 Januari 2005

Dua minggu tubuh Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya. Tubuhnyatersangkut di semak belukar. Di sebelahnya terbujur mayat Tiur yangpucat tak berdarah. Smith, seorang prajurit marinir AS berhasilmenemukan Delisa yang tergantung di semak belukar, tubuhnya dipenuhibunga-bunga putih. Tubuhnya bercahaya, berkemilau, menakjubkan! Delisasegera dibawa ke Kapal Induk JohnF Kennedy. Delisa dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku tangan kanannya di gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Mukalebamnya dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujurtubuhnya.

Aisyah dan Zahra, mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimahjuga sudah ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan.Abi Usman hanya memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar daripingsan. Prajurit Smith memutuskan untuk menjadi mu'alaf setelah melihatkejadian yang menakjubkan pada Delisa. Ia mengganti namanya menjadiSalam.

Tiga minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk, akhirnya ia diijinkanpulang. Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal bersamapara korban lainnya di tenda-tenda pengungsian. Hari-hari diliputi duka.Tapi duka itu tak mungkin didiamkan berkepanjangan. Abi Usman dan Delisakembali ke rumahnya yang dibangun kembali dengan sangat sederhana.

Delisa kembali bermain bola, Delisa kembali mengaji, Delisa dan anak-anak korban tsunami lainnya, kembali sekolah dengan peralatanseadanya. Delisa kembali mencoba menghafal bacaan sholat dengansempurna. Ia sama sekali sulit menghafalnya. "Orang-orang yang kesulitan
melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa. Hatinya tidakikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan." Begitu kata Ubai salah seorangrelawan yang akrab dengan Delisa.

21 Mei 2005


Ubai mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuahbukit. Hari itu Delisa sholat dengan bacaan sholat yang sempurna. Tidakterbolak-balik. Delisa bahkan membaca doa dengan sempurna. Usai sholat,Delisa terisak. Ia bahagia sekali. Untuk pertama kalinya ia menyelesaikan sholat dengan baik. Sholat yang indah. Mereka belajarmenggurat kaligrafi di atas pasir yang dibawanya dengan ember plastik.Sebelum pergi meninggalkan bukit itu, Delisa meminta ijin mencuci tangandi sungai dekat dari situ.Ketika ujung jemarinya menyentuh sejuknya air sungai. Seekor burungbelibis terbang di atas kepalanya. Memercikkan air di mukanya.. Delisaterperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap burung tersebut yang terbang
menjauh. Ketika itulah Delisa menatap sesuatu di seberang sungai.

Kemilau kuning. Indah menakjubkan, memantulkan cahaya matahari senja.Sesuatu itu terjuntai di sebuah semak belukar indah yang sedang berbuah.Delisa gentar sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah tersangkut.Ada huruf D disana. Delisa serasa mengenalinya. D untuk Delisa. Diatassemak belukar yang merah buahnya. Kalung itu tersangkut ditangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka. Sempurna kerangka manusia.Putih. Utuh. Bersandarkan semak belukar itu.

UMMI........ .......






karya : Fageta Dwi Safitri

0 komentar: